Sabtu, 28 Juli 2012

Mesjid Lama Gang Bengkok, Kota Medan


Masjid Lama Gang Bengkok, Medan (foto dari fighislam.com) 


Simbol Pembauran Melayu dan Thionghoa

Tak banyak masjid dengan keistimewaan seperti masjid lama Gang Bengkok di kota Medan ini. baik dari arsitekturalnya maupun dari sosio kemasyarakatannya.Masjid Lama Gang Bengkok diperkirakan berdiri pada tahun 1874, dibangun di atas tanah wakaf dari Haji Muhammad Ali yang lebih dikenal dengan nama Datuk Kesawan dan seluruh biaya pembangunannya di tanggung oleh Tjong A Fie(1860-1921) seorang saudagar Thionghoa dari daratan China yang kemudian hijrah ke Kota Medan di awal abad ke 19.

Masjid yang dibangun dalam sentuhan kental akulturasi budaya Thionghoa dan Melayu dalam satu bentuk masjid yang unik ini merupakan masjid tertua ke dua di Kota Medan. Dibangun 20 tahun setelah Masjid Al Osmani (1854) di Labuhan Deli, yang merupakan masjid tertua di Kota Medan. Masjid Lama Gang Bengkok tidak saja merekam jejak sejarah pembauran orang melayu dengan orang Thionghoa di kota Medan dalam pembangunan masjid ini tapi juga mewariskan nafas pembauran itu hingga kini.

Lokasi Masjid Lama Gang Bengkok.

Mesjid Lama Gang Bengkok
Jalan Mesjid, Kelurahan Kesawan
Kecamatan Medan Barat, Kota Medan
Sumatera Utara - Indonesia


Lihat Masjid Lama Gang Bengkok. di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Lama Gang Bengkok – Kota Medan

Masjid Lama Gang Bengkok (1874), ini merupakan salah satu dari tiga masjid tertua di kota Medan. Dua masjid tertua lainnya adalah Masjid Al Osmani (1854),di Jalan Yos Sudarso Kilometer 17,5 dan Mesjid Raya Al-Mashun (Mesjid Raya) di Jalan Sisingamangaraja. Dari sisi usia, Masjid Lama Gang Bengkok merupakan masjid tertua ke dua di Kota Medan setelah Masjid Al Osmani. Masjid ini bahkan lebih dulu dibangun dari Masjid Raya Al Mashun (1909).

Sebuah Nama Yang Aneh

Disebut Masjid Gang Bengkok, karena pada awal pembangunannya masjid ini berada di dalam sebuah gang sempit. Ruas gang tersebut memiliki belokan atau tikungan atau bengkokan pas di depan lokasi masjid ini berdiri. Karena sejak dibangun masjid ini memang tidak pernah secara resmi diberi nama oleh pendirinya ataupun oleh Sultan Deli, maka masyarakat setempat menyebutnya sebagai masjid di Gang Bengkok.

gerbang utama masjid Lama Gang Bengkok (foto danangsetiaji)
Lalu setelah sekian lama waktu berlalu, makin banyak masjid berdiri di kota Medan,  untuk membedakannya dengan masjid masjid yang baru, dengan sendirinya masyarakat disana menyebut masjid ini sebagai masjid lama, maksudnya masjid yang sudah sejak lama berdiri disana lebih dulu dibandingkan dengan masjid lainnya. Maka, hingga kini masjid ini disebut dengan nama Masjid Lama Gang Bengkok.

Satu Tempat Dua Nama

Anda tak kan menemukan nama Jalan Kesawan di peta kota Medan, karena yang dimaksud jalan Kesawan oleh orang medan itu kini bernama Jalan [Jendral] Ahmad Yani. Kawasan yang kini dilintasi oleh jalan Ahmad Yani itu memang mula mula bernama Kampung Kesawan. Hampir keseluruhan wilayah Kesawan ini dulunya di abad ke 19 dimiliki oleh Datuk Muhammad Ali, seorang saudagar kaya raya melayu asli. Karena besarnya pengaruh beliau di kawasan tersebut, masyarakat memanggil beliau dengan panggilan Datuk Kesawan.

gerbang dan atap masjid yang bercorak Thionghoa 
Kini Kesawan merupakan salah satu pusat niaga di kota Medan. Di kawasanKesawan ini juga banyak berdiri bangunan tua peninggalan peninggalan zaman kolonial. Gang bengkok di depan Masjid ini pun kini sudah tidak lagi berbentuk gang karena sudah diperluas sebagai jalan raya dan diberi nama Jalan Masjid. Tapi masyarakat setempat sudah terlanjur menyebutnya gang bengkok.

Di masa yang sama di kota Medan yang kala itu masih bernama Deli Tua, begitu terkenal seorang pengusaha Thionghoa kaya raya yang berasal dari China daratan. Beliau bernama Tjong A Fie (1860-1921). Beliau tak saja dikenal karena kekayaannya yang berlimpah tapi juga karena sifat dermawannya yang tak pandang bulu. Kedermawanan dan Kejayaan bisnis Tjong A Fie di Kota Medan sudah seperti sebuah legenda. Rumah kediaman mendiang Tjong A Fiedi Kesawan kini dikenal dengan nama Tjong A Fie Mansion ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya kota Medan dan ditetapkan sebagai warisan sejarah dunia Unesco.

Tanah wakaf dari orang Melayu dibangun oleh orang China

Masjid Lama Gang Bengkok, Kota Medan dibangun diatas tanah milik Datuk Muhammad Ali atau Datuk Kesawan yang memang beliau hibahkan untuk keperluan membangun masjid di wilayah Kesawan, namun keseluruhan proses pembangunan masjid nya sendiri ditanggung sepenuhnya oleh Tjong A Fie. konon hal tersebut dilakukan olehTjong A Fie sebagai bentuk penghormatan beliau kepada muslim melayu. Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini bahkan dilakukan sendiri oleh Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam (1873-1924), Sultan Deli ke-9 yang berkuasa saat itu.

Ketokohan Tjong A Fie yang begitu disegani membuatnya begitu dekat dengan Keluarga Kesultanan dan Penguasa penjajah Belanda. Tak mengerankan bila kemudian proses pembangunan Masjid Gang Bengkok ini pun turut menarik perhatian Sultan Deli. Keseluruhan pembangunan masjid ini diperkirakan dilaksanakan tahun 1874-1885. Tjong A Fie yang membangun masjid ini kemudian menghadap kepada Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam untuk melaporkan sudah selesainya pembangunan masjid tersebut sekaligus menyerahkannya kepada Sultan dan Sultan kemudian menunjuk Syech Mohammad Yacub untuk mengurus dan memelihara mesjid ini.

Arsitektural Masjid Lama Gang Bengkok – Kota Medan

Pepatah yang mengatakan “Jangan hanya menilai buku dari sampulnya”, tampaknya benar benar berlaku untuk masjid Lama Gang Bengkok di kota Medan ini. Bila hanya sekilas pandang saja melihat masjid ini tanpa berusaha untuk mencari tahu lebih jauh, siapapun pasti akan mengira masjid ini adalah sebuah Klenteng bagi umat Khonghucu bukan masjid bagi ummat Islam. Arsitektural masjid tua satu ini memang lebih mirip sebuah kelenteng dibandingkan sebuah masjid, tak mengherankan, karena Tjong A Fie yang membangunnya adalah tokoh kota medan dari etnis Thionghoa. Tak salah bila disebut masjid Lama Gang Bengkok ini sebagai monumen pembauran Melayu dan Thionghoa di Kota Medan. Meski bentuk Kelenteng begitu mendominasi, namun sentuhan melayu dan Islam menjadi pembeda mutlak bangunan ini dengan Kelenteng.

Interior Masjid Lama Gang Bengkok (foto dari fighislam.com)
Seni bina Melayu tampak jelas pada plafon mesjid yang terdapat umbai-umbai yaitu semacam hiasan yang disebut "lebah bergantung". Ukiran ini terbuat dari kayu, berbentuk semacam tirai berwarna kuning, warna khas Melayu. Sedangkan gapuranya bernuansa Islam Persia. Masjid lama Gang Bengkokhanya mengalami renovasi sedikit pada bagian pintu, dinding dan atap yang sudah rapuh. 75 % dari bangunan ini masih asli, termasuk ruang utama masjid seluas 18x18 meter dan 4 penyangganya yang berdiameter 2,1 centimeter dengan tinggi 2,2 meter. Empat tiang penyangga tersebut serupa dengan tiang penyanggah yang ada rumah Tjong A Fie di jalan Ahmad Yani Kota Medan. Konong, tukang yang membangun masjid inipun adalah tukang yang sama yang membangun rumah Tjong A FieDi masjid ini masih disimpan benda-benda bersejarah hingga sekarang.

Aktivitas dan pengelolaan Masjid Lama Gang Bengkok

Kepengurusan Masjid Lama Gang bengkok kebanyakan dipegang oleh Medanberetnis Mandailing. Mereka kebanyakan menjadi pengurus secara turun- temurun. Pengurus saar ini adalah generasi ke-4 dari pengurus masjid pertama.Seperti disebutkan di awal tulisan bahwa setelah seleasi pembangunan masjid ini, Syech Mohammad Yacub untuk mengurus dan memelihara mesjid ini.Keturunan beliau yang kemudian melanjutkan tradisi mengurus dan menjaga masjid ini. Sementara jemaah masjid terdiri dari banyak etnis dari Melayu sendiri, Jawa, Mandailing, China, Karo, dan Arab.

pemakaman di Masjid Lama Gang bengkok
(foto medanbisnisdaily.com)
Aktivitas pengajian rutin diselenggarakan di Masjid Lama Gang Bengkok. Masjid berdaya tampung hingga 2000 jemaah ini juga memiliki perpustakaan masjidyang dibuka untuk umum dengan koleksi buku sebanyak 500 judul buku pengetahuan umum dan agama. Selama bulan suci Ramadhan masjid ini penuh sesak oleh jamaah yang kebanyakan merupakan jemaah dari luar Kesawan. Aktivitas rutin yang diselenggarakan adalah antara lain adalah pengajian yang dilakukan setiap hari setelah sholat Zhuhur yaitu Tafsir Al-Quran dan hadist beberapa orang ulama. Satu hal yang juga dilakukan selama bulan Ramadhanadalah dengan menyediakan hidangan buka puasa bubur pedas khas Melayu seperti yang disediakan di Masjid Raya Al Mashun.

Seiring dengan berjalannya waktu, daerah kesawan yang dulunya merupakan pemukiman warga pun kini berubah menjadi area bisnis, perkantoran dan pertokoan. Dengan sendirinya jemaah masjid ini juga berubah dari yang dulunya mayoritas adalah warga sekitar, kini malah ramai oleh karyawan dan pelaku bisnis di kawasan tersebut. Jemaah masjid membludak saat sholat jum’at dan ramai di hari kerja namun jemaahnya justru menyusut di hari libur.

Masjid Raya Al Mashun, Medan - Sumatera Utara


Masjid Raya Al Mashun Medan (foto : masjid-photograph)


Masjid Raya Al Mashun atau Masjid Raya Medan atau kadang juga disebut Masjid Raya Deli, merupakan salah satu dari dua masjid yang pernah menjadi Masjid resmi kesultanan Deli pada masa jayanya. Masjid Raya Al Mashun juga merupakan masjid tertua ke tiga di kota Medan setelah Masjid Al Osmani di Labuan Deli yang juga merupakan masjid kesultanan Deli yang pertama danMasjid Lama Gang Bengkok di Jalan Masjid Kesawan.

Al-Mashun yang berarti ‘dipelihara’, sesuai namanya hingga kini masih terpelihara dan terawat dengan baik. Tidak heran, karena masjid ini di masa silam merupakan Masjid Negara pada masa jayanya Kesultanan Melayu Deli,lokasinya berdiri hanya terpaut sekitar 200 meter dari Istana Maimun yang merupakan Istana kesultanan Deli. Pembangunan Masjid Raya Al Mashundimulai pada tahun 1906, dan selesai pada tahun 1909. Secara keseluruhan biaya pembangunan masjid ditanggung sendiri oleh Sultan Maamun Al-Rasyid Perkasa Alamsjah, menghabiskan dana sebesar satu juta gulden Belanda.


Lokasi Masjid Raya Al Mashun Medan

Sisi timurMasjid Raya Al Mashun menghadap ke Jalan Sisingamangaraja sedangkan sisi utaranya menghadap ke Jalan Masjid Raya. Letaknya yang demikian membuat beberapa orang menulis alamat masjid ini berada di Jl. Sisingamangaraja yang lain nya menuliskannya berada di Jl. Masjid Raya. Namun yang pasti Masjid Raya Al Mashun ini berada di pusat kota Medan, tak jauh dari Istana Maimun yang sama sama peninggalan Kesultanan Melayu Deli.

Lihat lokasinya di wikimapia



Lihat Peta Lebih Besar

Sejarah Singkat Kota Medan

Kota medan yang kini menjadi ibukota propinsi Sumatera Utara, pada mulanya adalah sebuah kampung bernama Kampung Medan Putri yang didirikan olehGuru Patimpus putra Karo bermarga Sembiring Pelawi pada 1 Juli 1590. Dalam bahasa Karo, kata "Guru" berarti "Tabib" atau "Orang Pintar", kata "Pa" adalahsebutan untuk seorang Bapak berdasarkan sifat atau keadaan seseorang, lalukata "Timpus" berarti bundelan, bungkus atau balut. Guru Patimpus bermakna seorang Tabib yang memiliki kebiasaan membungkus sesuatu dalam kain yang diselempangkan di badan untuk membawa barang bawaannya. Sebagai penghormatan kepada beliau Pemerintah Kota Medan membangun MonumenGuru Patimpus di sekitar Balai Kota Medan. Dan tanggal 1 Juli setiap tahun diperihati sebagai hari jadi kota Medan.

Karena letaknya yang berada di Tanah Deli, Kampung Medan juga sering dikenal sebagai Medan Deli. Lokasi asli Kampung Medan adalah sebuah tempat di mana Sungai Deli bertemu dengan Sungai Babura. Terdapat berbagai kerancuan dari berbagai sumber literatur mengenai asal-usul kata "Medan" itu sendiri. Dari catatan penulis-penulis Portugis dii awal abad ke-16, Kata Medan berasal dari nama "Medina", sumber lainnya menyatakan Medan berasal dari bahasa India "Meiden".

Masjid Raya Medan yang kokoh meski telah melewati usia
lebih dari satu abad (foto : medanenjoy.blogspot.com)
Yang lebih kacau lagi ada sebagian masyarakat menyatakan Medan merupakan tempat atau area bertemunya berbagai suku sehingga disebut sebagai medan pertemuan. Adapula yang mengatakan ketika saudagar Arab yang melihat tanah Medan mengatakan Median yang berarti datar atau rata dan memang pada kenyataannya Medan memiliki kontur tanah yang rata mulai dari pantai Belawanhingga daerah Pancur Batu. Dalam Kamus Karo-Indonesia yang ditulis Darwin Prinst SH: 2002, Kata "Medan" berarti "menjadi sehat" ataupun "lebih baik". Hal ini memang berdasarkan pada kenyataan Guru Patimpus adalah seorang tabib yang memiliki keahlian dalam pengobatan tradisional Karo pada masanya.

Medan pertama kali ditempati suku Karo. Hanya setelah penguasa Aceh, Sultan Iskandar Muda, mengirimkan panglimanya, Gocah Pahlawan BergelarLaksamana Khoja Bintan untuk menjadi wakil Kerajaan Aceh di Tanah Deli, barulah Kerajaan Deli mulai berkembang. Perkembangan ini ikut mendorong pertumbuhan penduduk maupun kebudayaan. Di masa pemerintahan Sultan Deli kedua, Tuanku Panglima Parunggit (1669-1698), terjadi perang kavaleri dan sejak itu Medan menjadi pembayar upeti kepada Sultan Deli. Kesultanan Deli ini pula yang meninggalkan warisan sejarah termasuk dua masjid kesultanan di dua tempat berbeda di kota Medan, yakni Masjid Al Osmani di Labuhan Deli dan Masjid Raya Almashun di pusat kota Medan.

Komplek Masjid Raya Medan, Bangunan utama dan bangunan
penunjang dirancang begitu serasi (thearoengbinangproject)
Sekilas Sejarah Kesultanan Melayu Deli

Kesultanan Melayu Deli pertama kali didirikan oleh Muhammad Dalik pada tahun 1653 (versi lain menyebut tahun 1630), sebagai negeri bawahan Kesultanan Aceh. Muhammad Dalik adalah seorang pemuka yang menjadi laksamana diKesultanan Aceh dikenal juga dengan nama Gocah Pahlawan bergelar Laksamana Khuja Bintan atau Laksamana Kuda Bintan. Beliau adalah keturunan dari Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India yang menikahi Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudra Pasai. Dia dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah sungai Lalang-Percut.

Dalik meninggal pada tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan menjadi Sultan Deli Ke 2, dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Setelah Mangkatnya Sultan Deli ke-3 Tuanku Panglima Padrab Muhammad Fadli, sempat terjadi perebutan kekuasaan antara putra putranya dan menjadi awal berdirinya kesultanan Serdang.

refleksi indah Masjid Raya Medan dari balik kolam (foto : flickr)
Berdirinya Masjid Raya Al Mashun Medan

Di tahun 1728 Tuanku Panglima Pasutan memindahkan pusat kerajaan dari Padang Datar, ke Kampung Alai [Labuhan Deli] Tercatat enam Sultan Deli yang pernah bertahta di Istana Kerajaan Melayu Deli di Labuhan Deli, sejak dari Sultan Deli ke 4 hingga Sultan Deli ke-9. Masjid Al Osmani yang merupakan masjid Kesultanan bagi Kesultanan Deli dibangun sejak masa pemerintahan Sultan Osman Perkasa Alam (Sultan ke-8) masih berdiri kokoh hingga kini menjadi saksi sejarah kesultanan Melayu Deli.

Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam (Sultan Deli ke-9) kemudian memindahkan kembali ibukota kerajaan ke daerah Padang Datar [pusat kota medan]. Pemindahan kembali ibukota kerajaan terebut dilakukan setelah Kerajaan Melayu di Labuhan Deli dikuasai Belanda, ketika Sultan Mahmud Perkasa Alam [sultan Deli ke-8) terpaksa memberikan sebagian daerahnya menjadi tanah konsesi kepada penjajah Belanda pada tahun 1863 untuk ditanami tembakau Deli.

Sultan Al Rasyid di abadikan
dalam sebuah perangko tahun
emisi 2006
Di ibukota pemerintahan baru ini Kesultanan Deli berkembang pesat, setelah Deli lepas sama sekali dari Kesultanan Aceh dan Kesultanan Siak Sri Indrapura pada 1861Meski masih dalam bayang-bayang pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam kemudian membangun Istana Maimun pada 26 Agustus 1888 dan selesai 18 Mei 1891.

Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam memulai pembangunan Masjid Raya Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H)Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini. keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota medan dari etnis Thionghoa yang sejaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyd turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.

interior Masjid Raya Medan (skyscrapercity.com)
Pada awalnya Masjid Raya Al Mashun di rancang oleh Arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, namun kemudian proses-nya dikerjakan oleh JA Tingdeman. Van Erp ketika itu dipanggil ke pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi candi Borobudur di Jawa Tengah. Sebagian bahan bangunan diimpor antara lain: marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia, Jerman dan kaca patri dari Cina dan lampu gantung langsung dari Prancis. Mesjid Raya sedikit berbeda dengan masjid pada umumnya karana tidak banyak kaligrafi sini namun banyak terdapat ukiran bunga dan tanaman yang keseluruhanya di cat.

Arsitektural Masjid Raya Al Mashun

JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid masjid kebanyakan. Di ke empat penjuru masjid masing masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.

Mimbar & Migrab Masjid Raya Medan (thearoengbinangproject)
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar. Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan art nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di dalam mesjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang sholat utama.

Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan disain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan. Sedangkan kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk kubahnya mengingatkan kita pada Mesjid Raya Banda Aceh. Di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing. Gerbang mesjid iniberbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab.

dua pekerja sedang sibuk memperbaiki lampu penerangan
di sekitar komplek masjid raya medan (tribunnews.com)
Pengelolaan Masjid Raya Al Mashun

Secara tradisi turun temurun keluarga Sultan sangat berperan dalam pengelolaan masjid ini. Sejak era kemerdekaan, pemerintah kota Medan mengambil andil dalam perawatan dan pengelolaan masjid. Pengurus masjid sangat ketat menjaga masjid ini termasuk menjaga keaslian bangunan dengan tidak sembarangan melakukan perbaikan apalagi perombakan mengingat material yang dipakai untuk membangun masjid ini memang dari bahan bahan pilihan yang kini tidak mudah untuk didapatkan.

Sebagai bangunan tua, Pemkot Medan dan Pengelola Masjid Raya Al Mashun memberikan penangangan khusus terhadap masjid ini. Di sebuah papan yang berada dipintu gerbang masuk kompleks masjid misalnya, para pengunjung hendak memasuki masjid di”warning” agar tidak melakukan tujuh hal, yaitu dilarang masuk bagi segala jenis kendaraan, dilarang memakai alas kaki, dilarang berjualan di dalam kompleks, dilarang bermain segala jenis olahraga, dilarang meludah di atas lantai, dilarang membuang sampah sembarangan, dan dilarang merokok. Bagi yang melakukan ketujuh larangan tersebut, akan dituntut melanggar pasal 406 ayat 1 KUHP, dengan ancaman 2 tahun dan 8 bulan penjara.

Lebaran Idul Fitri tahun 2009 di Masjid Raya Medan (picasaweb)
Aktivitas Masjid Raya Al Mashun

Pada bulan Ramadhan, suasana di Masjid Raya ini menjadi jauh lebih semarak dibanding hari-hari biasa. Kegiatan ibadah tidak hanya berlangsung siang hari, melainkan juga malam hari hingga menjelang waktu sahur. Siang disisi dengan kegiatan muzakarah, diskusi tentang hukum sya’ri Islam, ceramah Ramadhan, dan berbagai kegiatan pengkajian Islam lainnya.
Pada malam hari kegiatannya berupa shalat Tarawih dan Tadarrus Al-Qur’an hingga larut malam hingga sampai dini hari saat sahur tiba. Selain itu, untuk menghidupkan suasana di komplek masjid, pengurus juga menyiapkan makanan bukaan setiap sore dari sumbangan para dermawan dan masyarakat sekitar masjid. Makanan berbuka yang disiapkan hingga 300 - 500 orang tersebut khusus bagi anak-anak yatim, gelandangan, dan kaum musafir yang jauh dari rumahnya saat waktu berbuka tiba. Hidangan khas di masjid ini adalah sajian bubur pedas khas masjid Raya Al Mashun.

Foto Foto Masjid Raya Al Mashun

denah simetris bangunan masjid raya medan terlihat jelas dari
sudut ini (foto : adie.blogspot.com)
keanggunan masjid ini meski dalam usianya yang sudah tak
lagi muda menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan
(foto : masjid-photograph.blogspot.com)
malam hari di Masjid Raya Al Mahsum Medan (foto : flickr)
gerbang, Masjid dan Menara (abukhaidir.wordpress.com)
suasana di dalam Masjid Raya Al Mahsum Medan